Gerimis yang Menari

LEWAT teleskop di senapan Steyr-nya, ia mengamati keadaan di bawah sana. Ia melihat kerumunan mahasiswa, mungkin lebih dari 1.000 mahasiswa, memenuhi jalan dari gerbang kampus sampai ke dekat kantor lama walikota. Ia hanya berjarak 400 meter dari mereka. Hampir seluruh mahasiswa itu berjaket biru-tua, tapi ia juga melihat beberapa orang yang berjaket kuning dan krem-pudar. Lalu beberapa orang berkaus oblong tapi mengikatkan jaket ke pinggang atau melingkar di leher.

Jam 15.11.

Hujan sudah lama reda. Sekarang turun gerimis kecil.

Ia melihat hampir seluruh mahasiswa itu duduk atau berjongkok di aspal, dengan beralas robekan koran. Sebagian lagi duduk-duduk di kantin trotoar, atau berdiri menggerombol dengan spanduk ‘Turunkan Harga’ dan ‘Mahasiswa Menuntut Demokrasi dan Reformasi’. Beberapa yang lain membawa bendera. Di sudut yang agak jauh, beberapa orang mengusung spanduk besar bertulisan ‘Rakyat Minta Presiden Mundur’. Tapi semua mata menatap ke satu titik di depan kantor lama walikota, pada seseorang yang berorasi dengan mencangklongkan corong di bahu. Ia tak bisa mendengar apa yang dikatakan orang itu, tapi ia melihat sesekali mahasiswa berteriak dan beberapa orang melakukan gerakan-gerakan, seperti menyanyi.

Lalu 20 meter dari orang yang sedang berorasi, tampak kawan-kawannya dari angkatan bersenjata membentuk barikade empat lapis. Lapis pertama adalah polisi dengan tameng dan tongkat. Lapis kedua juga polisi, dan mereka bersenjata senapan. Lapis ketiga bukan polisi, tapi angkatan darat. Ia mengenali dari corak seragam mereka. Di baris paling belakang kelihatan 10 sepeda motor. Masing-masing dengan pengemudi dan pembonceng, serta senapan menyerong di dada.

Jam 15.17.

Ia lalu menatap ke arah kampus, yang berjarak 200 meter dari kantor lama walikota. Di dalam kampus kelihatan kerumunan mahasiswa dalam jumlah besar. Lebih banyak dibanding yang turun ke jalan. Tapi sebagian mahasiswa mulai meninggalkan kampus lewat gerbang samping. Kampus itu terletak di persimpangan perempatan jalan. Jadi ada dua pintu gerbang. Tak jauh dari gerbang samping, ia melihat barikade angkatan darat dengan dua truk dan lima panser. Angkatan darat juga tampak berjaga di jalan layang dan di jalan samping pusat perbelanjaan, di seberang kampus. Sementara di jalan layang tepat di depan kampus, beberapa polisi berjongkok dan laras senapan mereka mengarah ke kampus. Polisi juga memblokir jalan tol di bawahnya, dan menaruh regu penembak di jembatan penyeberangan. Diam-diam ia tersenyum kecil. Kampus yang terletak di salah satu perempatan paling sibuk itu sekarang betul-betul terkepung!

Tetapi dari kerumunan di dekat kantor lama walikota, ia mendapati pemandangan yang unik. Lewat teleskop di senapan Steyr-nya, ia melihat beberapa mahasiswa tersenyum atau tertawa. Ia melihat dua-tiga wartawan asing, yang menelepon dengan muka tegang—dan ditertawakan oleh para mahasiswa. Ketika salah seorang wartawan mengangkat kamera, beberapa mahasiswa mendekat dan berpose sambil berangkulan. Ia juga melihat dua mahasiswa membagikan minuman kemasan pada polisi-polisi di barikade, lalu meminta foto bersama. Beberapa polisi malah menyelipkan bunga—mungkin pemberian para mahasiswa—di senapan mereka. Meskipun semua mata mengarah pada orang yang sedang berorasi, suasana di depan kantor lama walikota itu tampak santai.

Sekali lagi ia tersenyum kecil. Sejak unjuk rasa mahasiswa merebak lebih dari dua bulan lalu, ia tak pernah percaya bahwa ribuan mahasiswa yang sudah turun ke jalan-jalan itu betul-betul serius meneriakkan tuntutannya. Mungkin banyak dari mereka yang serius, tapi pasti lebih banyak lagi yang ikut-ikutan—sekadar menunjukkan solidaritas di antara mahasiswa. Dan pemandangan hari ini, pemandangan di depan kantor lama walikota, paling tidak menunjukkan dugaannya tidak meleset!

Jam 15.30.

Lewat pengeras suara, polisi mengumumkan unjuk rasa itu hanya diizinkan sampai jam 16.00.

Terdengar teriakan-teriakan dari kerumunan mahasiswa, disusul lolongan “huuuu” yang panjang. Tapi setelah itu semua mata kembali tertuju ke ‘mimbar’, pada orang yang tadi berorasi dan sekarang duduk dan digantikan oleh orang lain.

Lalu ia melihat sesuatu di jembatan penyeberangan. Ia mengarahkan teleskop ke sana, dan mengamati. Kelihatan seseorang, mungkin wartawan asing, yang sedang memotret ke bawah—ke arah kerumunan. Orang itu juga kelihatan menawarkan donat pada regu penembak, lalu memotret salah seorang di antaranya yang tersenyum sambil mengacungkan jempol.

Sekarang ia teringat. Orang itu, wartawan asing itu, adalah orang yang beberapa waktu lalu berjalan bolak-balik di depan kantor lama walikota. Orang itu juga berjalan melintasi kampus, sampai ke barikade di jalan samping. Di sana orang itu terlihat mengobrol cukup lama dengan salah satu personel angkatan darat, sebelum keduanya bersalaman, dan dengan leluasa orang itu memotret di depan barikade.

Kali ini ia tersenyum kecut. Kepalanya menggeleng lambat. Inilah mental bangsa ini, umpatnya dalam hati. Bangsa ini memang bermental hamba dan cenderung merendah di depan orang asing. Tetapi ketika berhadapan dengan sesamanya, bangsa ini bisa berubah beringas. Unjuk rasa mahasiswa hanya salah satu contoh yang menunjukkan keberingasan itu. Sejak dua bulan lalu, entah sudah berapa mahasiswa atau kawan-kawannya dari angkatan bersenjata yang dirawat di rumah sakit. Unjuk rasa mahasiswa yang mulanya hanya aksi keprihatinan sudah berubah anarkis dan destruktif, sejak mereka turun ke jalan-jalan. Mereka menuntut reformasi di bidang ekonomi, politik dan hukum. Lalu mereka meneriakkan pengunduran diri Presiden dan pembubaran kabinet. Terakhir mereka mulai berani membakar potret atau patung Presiden. Ketika itulah kawan-kawannya dari angkatan bersenjata dikerahkan untuk menertibkan, dan sejak itu muncul bentrokan-bentrokan. Dalam tiap bentrokan selalu ada yang luka. Makin lama makin banyak, dan makin banyak yang dirawat di rumah sakit. Bahkan beberapa hari lalu, ia mendengar tentang seorang mahasiswa dan seorang polisi meninggal dalam dua bentrokan terpisah.

Belum lagi kalau bicara tentang kerusuhan rasial yang akhir-akhir ini mulai merebak.

Terus terang, ia menyesalkan semua aksi unjuk rasa itu. Saat ini negara tengah dilanda krisis ekonomi yang parah. Nilai mata uang terus merosot. Harga-harga melambung. Kebutuhan pokok makin sulit didapat. Banyak perusahaan gulung tikar, yang berakibat tingginya jumlah pengangguran. Belum lagi ditambah bencana yang datang beruntun dalam setahun terakhir. Kebakaran hutan. Panen yang gagal. Kelaparan di pulau terjauh negara ini. Lalu wabah demam berdarah di 12 provinsi. Seharusnya dalam kondisi ini semua pihak bisa menahan diri, dengan membiarkan pemerintah bekerja. Mahasiswa tak perlu berunjuk rasa dan menambah kerumitan. Tapi persoalannya, pihak rektorat universitas mengizinkan, dan mahasiswa mendapat dukungan dari banyak tokoh oposisi yang mulai bersuara lantang.

Jam 16.05.

Polisi memasang pita garis-polisi di depan kantor lama walikota.

Jam 16.11.

Lewat pengeras suara, polisi menegaskan unjuk rasa itu hanya diizinkan sampai jam 16.00. Karena sekarang sudah lewat 16.00, mahasiswa diminta kembali ke kampus.

Beberapa mahasiswa berdiri dan berjalan ke arah kampus. Tapi sebagian besar tetap duduk di jalan aspal.

Jam 16.17.

Polisi menegaskan agar mahasiswa kembali ke kampus. Jika menolak, akan diambil tindakan untuk memaksa mereka kembali ke kampus.

Kali ini banyak mahasiswa berdiri dan merangsek ke arah barikade. Beberapa mahasiswa yang tadi duduk di baris paling depan langsung merapat sambil bergandengan tangan. Mereka membentuk pagar betis untuk menahan laju mahasiswa yang lain. Ada jarak 15 meter antara kerumunan itu dengan lapis pertama barikade, yang mulai bersiaga.

Ia mengarahkan laras senapan Steyr-nya ke kantor lama walikota.

Lalu ia melihat dua orang memaksa masuk ke ruang kosong 15 meter itu. Satu dari kedua orang itu tak ia kenali, tapi yang seorang lagi ia kenali dengan baik. Wajahnya sudah sangat familiar. Itu adalah hakim agung, tepatnya mantan hakim agung, yang sudah diberhentikan karena memenangkan pihak penggugat, yaitu sebuah majalah berita mingguan yang izin terbitnya dicabut. Keduanya tampak berbicara pada mahasiswa, lalu berbalik ke arah barikade.

Ia menunggu. Tampaknya terjadi tawar-menawar yang cukup lama.

Langit mulai berwarna keruh.

Jam 16.38.

Lewat pengeras suara, komandan barikade mengucapkan terima kasih karena mahasiswa sudah berunjuk rasa dengan tertib. Lalu barikade itu bergerak mundur. Tak lama kemudian mahasiswa juga bergerak mundur. Beberapa mahasiswa yang membentuk pagar betis tetap bergandeng tangan menutup jalan, seolah menuntun kawan-kawannya kembali ke kampus.

Jumlah mahasiswa di jalan terus berkurang. Sekarang mungkin hanya tersisa sekitar 500 orang. Ia menatap ke kampus. Di dalam kampus, jumlah mahasiswa yang masih bertahan juga jauh berkurang. Mungkin hanya berkisar ratusan orang. Sebagian tumpah ke pintu gerbang, memesan makanan atau minuman dari para pedagang yang berjualan di sana.

Jam 16.45.

Tiba-tiba ia melihat orang itu, orang yang menjadi target bidikannya hari ini. Lewat lensa teleskop, ia melihat orang itu di depan salah satu gedung yang disebut Gedung A, tak jauh dari gerbang kampus. Orang itu berdiri pada posisi yang sangat terbuka. Ia tak mungkin salah! Wajah itu sudah tak asing lagi, sejak potret orang itu diberikan padanya dalam amplop tertutup tadi siang. Ia sudah memandangi potret itu cukup lama, sampai-sampai wajah orang itu seperti berpindah dari potret ke dalam kepalanya.

Ia mulai membidik, ke satu titik di antara kedua alis mata dan beberapa sentimeter di atas pangkal hidung. Ia hanya berjarak 400 meter dari orang itu. Dengan peluru 5,56 mm di dalam senapan Steyr-nya, dan kecepatan tembakan 992 meter per detik, peluru akan mengenai kepala orang itu kurang dari setengah detik. Tak mungkin meleset, karena sore ini hampir tak ada angin. Peluru akan menembus kepala dalam garis diagonal, merusak otak dan sistem saraf, lalu keluar lewat tempurung belakang dan meninggalkan luka mengeroak.

Tapi saat ini belum saatnya menembak! Belum ada isyarat.

Jam 16.56.

Hujan mengucur dengan deras.

Lalu ia melihat ada keributan di dekat kantor lama walikota. Seorang berbaju putih tampak berlari ke barikade, dan beberapa mahasiswa mengejarnya. Orang itu menghilang ke dalam barikade. Lalu terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dengan lapis pertama barikade. Beberapa mahasiswa bahkan memukul-mukulkan bambu pengikat spanduk atau bendera. Ia melihat lapis kedua barikade mulai mengokang senapannya, sementara di tengah kedua kelompok itu tiga atau empat mahasiswa berusaha melerai sambil berteriak-teriak.

Keributan itu memancing para mahasiswa yang sudah berada di dalam kampus berlari keluar.

Bentrokan itu tak lama. Pelan-pelan suasana mereda. Mahasiswa berbalik kembali ke kampus.

Sekali lagi ia tersenyum kecut. Sangat mudah ditebak, kalau orang berbaju putih yang berlari tadi adalah intel yang sengaja ditaruh polisi di tengah massa mahasiswa. Dan pasti bukan perencanaan yang baik, karena orang itu ketahuan. Tapi bukankah kejadian hari ini bukan yang pertama kalinya?

Jam 17.07.

Target bidikannya masih berdiri di depan Gedung A.

Lalu ia merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang salah pada cuaca sore ini. Hujan mereda, tapi setelah itu muncul gerimis yang aneh. Gerimis yang serupa serbuk-serbuk air. Jumlahnya sangat banyak dan berjarak rapat. Ia melihat serbuk-serbuk air yang kecil-halus dan hampir menutup seperti kabut, yang mengapung dan bergerak lambat-lambat. Ia melihat serbuk-serbuk air tanpa bobot yang tersendat, tapi mengayun-ayun tiap kali bergesek dengan angin yang tipis. Mengayun dan menari. Ini gerimis yang menari!

Ia tersentak. Suasana di bawah sana tiba-tiba berubah. Ia seperti mencium aura ketegangan, berkat latihan bertahun-tahun dan keterlibatannya dalam banyak pertempuran—terutama di ujung paling barat negara ini. Ia melihat regu penembak di jalan layang dan jembatan penyeberangan mulai bersiaga. Juga barikade di jalan samping dan beberapa personel angkatan darat di seberang kampus. Ia juga melihat tiga sosok mengendap-endap di atap salah satu gedung dalam kampus. Lalu ada yang melempar batu ke arah barikade di depan kantor lama walikota. Serentak lapis pertama barikade merangsek maju.

Inilah isyarat itu!

Ia membidik. Orang itu masih saja berdiri di depan Gedung A. Tapi sepersekian detik setelah ia menarik pelatuk senapan, seperti ada seseorang yang menutup target bidikannya.

Sumber: http://lakonhidup.wordpress.com/2013/02/17/gerimis-yang-menari/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s